Jun 09

MISA LATIN MINGGU TRINITAS DAN PROSESI KORONASI

Terpujilah Allah Bapa, Putra Allah yang tunggal, serta Roh Kudus, karena sudah menaruh belas kasih kepada kita!

Pada hari minggu, 22 Mei 2016, Komunitas penyelenggara Misa Latin Tradisional kembali menghadirkan Misa Latin yang dipersembahkan oleh Yang Mulia, Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM Cap –  Uskup Agung Emeritus Pontianak.  Pada hari itu adalah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Credo – Et incarnatus …

Dalam Misa Kudus, diawali dengan ritus pemercikan air suci diiringi dengan madah Asperges Me , yang menyucikan jiwa dari dosa-dosa, menyadari akan pembaptisan yang telah diterima. Homili Yang Mulia Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM Cap berjudul “BIARLAH MISTERI TETAP MENJADI MISTERI” (Dari Buku renungan Ruah).  “St. Thomas Aquino, sebagai seorang doctor angelicum, sangat terkenal karena tulisan-tulisannya tentang Allah. Namun, ia meminta supaya tulisan-tulisannya tentang Allah dibakar saja. Ia mengatakan bahwa apa yang ia tulis itu tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan kenyataan Allah yang sungguh ada.”

Homili

Misa Kudus Minggu Tritunggal Mahakudus walau tidak dilayani oleh koor, namun lantunan gregorian oleh seorang penyelenggara Misa Latin  membuat Misa tetap khidmat dan agung.

Mahkota mawar untuk Bunda Maria

Tidak seperti biasanya pada Misa kali ini, karena dirayakan pada bulan Mei yang merupakan bulan Maria, Komunitas yang menaruh penghormatan yang mendalam kepada Santa Perawan Maria, maka diselenggarakan prosesi koronasi, suatu tradisi yang hampir dilupakan di berbagai daerah. Prosesi ini dilakukan secara terpisah dari Misa Kudus, yaitu dilakukan setelah Misa kudus. Prosesi ini dilangsungkan dengan meriah, yang dipimpin oleh Mgr. Hieronymus Bumbun. Setelah prosesi koronasi, umat secara pribadi menghormati potongan kain yang pernah ditempelkan ke relikwi Sabuk Bunda Maria (Proses ini dalam Gereja Latin disebut relikwi kelas III).

Pemberkatan korona/mahkota mawar

Koronasi

Potongan kain yang disentuhkan dengan relikwi Sabuk Bunda Maria

Lihat dokumentasi selengkapnya di:

https://web.facebook.com/Missa-Latina-877891692234413/photos/?tab=album&album_id=1186813924675520

Semoga Misa Latin Tradisional semakin berkembang di setiap wilayah, khususnya untuk negara Nusantara.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/misa-latin-minggu-trinitas-dan-prosesi-koronasi/

Feb 12

Merenungkan Sepenggal Kalimat dari Prefasi Prapaskah

berpuasaKalimat dari Prefasi Prapaskah yang akan kita renungkan adalah:

Qui corporáli ieiúnio vitia cómprimis, mentem élevas, virtútem largíris et proemia: per Christum, Dóminum nostrum.

Supaya kita mengerti, ada baiknya kita melihat seluruh kalimat yang sesungguh, terutama untuk mengerti siapa yang dimaksudkan dengan kata “qui” yang artinya “yang”.

Vere dignum et iustum est, æquum et salutáre, nos tibi semper et ubíque grátias ágere: Dómine sancte, Pater omnípotens, ætérne Deus: Qui corporáli ieiúnio vitia cómprimis, mentem élevas, virtútem largíris et proemia: per Christum, Dóminum nostrum.

Kata “qui” itu merujuk kepada “Dómine sancte, Pater omnípotens, ætérne Deus” (Tuhan yang kudus, Bapa yang mahakuasa, Allah yang kekal) atau dengan kata lain merujuk kepada Allah yang sedang kita sapa.

Jika demikian kita akan mendapatkan terjemahan kurang lebih demikian:

Sungguh layak dan pantas, tepat dan berguna, di setiap waktu dan tempat kami mengucap syukur kepadaMu, Tuhan yang kudus, Bapa yang mahakuasa, Allah yang kekal: lewat puasa badani Engkau mengekang kejahatan kami, mengangkat budi kami, menganugerahi kami kekuatan dan pahala, dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.

Siapa yang mengambil peran di sini? Allah dan manusia. Supaya Allah dapat membantu kita dalam pertobatan kita selama masa prapaskah ini, Ia menyediakan sarana yaitu puasa badani untuk kita gunakan. Jadi peran kita adalah mau menggunakan sarana itu. Dari doa prefasi ini kita percaya bahwa lewat puasa badani, Allah membantu kita mengekang keinginan-keinginan kita yang dapat membawa kita kepada dosa, memusatkan pikiran kita kepada Tuhan, memberi kita kekuatan dan pahala. Dengan demikian berpuasa tidak lain adalah memberi tempat kepada Tuhan di dalam hidup kita.

Semoga puasa kita selama masa prapaskah ini membuat kita semakin haus dan lapar akan Tuhan. Amin.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/merenungkan-sepenggal-kalimat-dari-prefasi-prapaskah/

Jan 28

Berikan “Kesaksian” dalam Kongres Ekaristi, Kardinal Zen Juga Akan Rayakan Misa Latin

FILIPINA – Berikan “Kesaksian” dalam Kongres Ekaristi, Kardinal Zen Juga Akan Rayakan Misa Latin

Uskup Emeritus Hong Kong akan berbicara dalam kongres di Cebu. Seorang penulis blog Katolik berkata, “Menurut pengalaman saya, para muda-mudi yang berpartisipasi dalam Misa berbahasa Latin menemukan bahwa Misa Latin itu menantang mereka untuk menggali iman Katolik lebih dalam lagi. Para muda-mudi memang menyukai tantangan!”

Cebu (AsiaNews) – Kardinal Joseph Zen Ze-Kiun, uskup emeritus Hong Kong, akan merayakan Misa Votiva Sakramen Mahakudus, berdasarkan Forma Ekstraordinaria Ritus Romawi, pada tanggal 26 Januari, pukul 16.30 di Asilo de Milagrosa, Gorordo Avenue, di kota Cebu, tempat dilaksanakannya Kongres Ekaristi Internasional (IEC) yang ke-51 dengan tema “Kristus dalam dirimu, harapan akan kemuliaan”.

Societas Ecclesia Dei Sancti Ioseph (Perhimpunan Ecclesia Dei Santo Yosef) – Una Voce Filipina mengorganisir dan mensponsori Misa Latin Tradisional (MLT) untuk dirayakan oleh Kardinal.

Kardinal Zen, yang sejak Mei 2006 rutin merayakan Forma Ekstraordinaria dari Ritus Romawi atau Misa Latin Tradisional, akan berbicara pada hari ini, yaitu hari kedua dari IEC.

Perayaan Misa dalam ritus Latin tersebut diperbolehkan menurut Motu Proprio Summorum Pontificum yang diterbitkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 7 Juli 2007, yang memperluas ke seluruh Gereja Motu Proprio Paus Yohanes Paulus II, yang diterbitkan untuk Ecclesia Dei tahun 1988, yang memperbolehkan para uskup untuk memilih sendiri tempat di mana Misa Latin dapat dirayakan.

“Menurut pengalaman saya, para muda-mudi yang berpartisipasi dalam Misa berbahasa Latin menemukan bahwa Misa Latin itu menantang mereka untuk menggali iman Katolik lebih dalam lagi. Para muda-mudi memang menyukai tantangan,” kata Carlos Antonio Palad, seorang penulis blog Katolik. Bahasa Latin tidak menghentikan mereka yang tidak menguasainya, sebab Misa tersebut sudah menjadi “bagian dari kehidupan umat Katolik di Filipina selama 450 tahun. Bahkan ketika Misa masih dirayakan dalam bahasa Latin, para umat di Filipina menghadirinya dengan tekun.”

Palad, yang merupakan anggota Defensores Fidei Foundation, berkata bahwa para umat merasa MLT sebagai “suatu bentuk ibadah di mana Gereja tidak ingin terpengaruh oleh waktu.” Ia menambahkan bahwa dengan bahasa Latin, hanya ada “ibadah dan iman Katolik, tanpa adanya upaya-upaya untuk menjadikannya lebih ‘bergaya’ atau lebih terasa modern.”

Palad berkata bahwa banyaknya umat yang menghadiri MLT di Filipina terus bertambah dari tahun ke tahun semenjak berlakunya Summorum Pontificum.

“Ketika Summorum Pontificum diumumkan pada tahun 2007, hanya ada tiga tempat di Filipina yang menyelenggarakan MLT dengan izin uskup. Sekarang ada 14 tempat yang menyelenggarakannya rutin setiap Minggu, ditambah dengan tempat-tempat lain yang menyelenggarakannya setiap bulan atau sebagai Misa Harian,” demikian penjelasan beliau. Beliau juga menambahkan bahwa mereka yang menghadirinya pada umumnya “amat muda dan antusias”.

Dean Louis Bascon, seorang guru berusia 25 tahun yang mengajar di Paco Catholic School, berencana pergi ke Cebu untuk menghadiri perayaan sekali seumur hidup ini. Ia berkata bahwa ia tertarik dengan MLT oleh karena “rasa hormatnya, rasa bahwa sesuatu yang besar sedang sungguh terjadi tepat di hadapan saya, umat biasa menyebutnya sebagai rasa sakral, yaitu perasaan yang amat jelas bahwa engkau bertemu dengan Tuhan sendiri.”

[Diterjemahkan langsung oleh Sdr. Jonathan Hoseana dari http://www.asianews.it/news-en/Bearing-witness-to-the-Eucharistic-Congress,-Card-Zen-will-also-celebrate-a-Latin-Mass-36491.html

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/berikan-kesaksian-dalam-kongres-ekaristi-kardinal-zen-juga-akan-rayakan-misa-latin/

Jan 14

Romo, Tolong Hentikan Itu

Dari keenambelas dokumen Konsili Vatikan II, adakah aturan yang lebih sering dilanggar daripada Kaidah Umum 22.3 dari Konstitusi Tentang Liturgi Suci? Bila Anda lupa, kaidah itu mengajarkan bahwa “Tidak seorang pun, termasuk Imam, yang boleh menambah, meniadakan, atau mengubah apapun dalam liturgi atas prakarsa sendiri.”

Jika Anda rutin menghadiri Misa harian, mungkin Anda mengamati bahwa kaidah ini dilanggar lusinan kali dalam sepekan. Mereka yang hanya menghadiri Misa Minggu umumnya mengamati bahwa kaidah itu dilanggar setidaknya dua atau tiga kali seminggu. Tindakan mengubah-ubah teks yang telah ditetapkan dalam Misa memang terlihat mewabahi Imam-Imam yang belajar di seminari pada akhir tahun 60-an, pada tahun 70-an, dan pada awal tahun 80-an, dan lebih tidak kentara dalam kalangan para klerus yang lebih muda. Tetapi berapapun usia Imam yang melakukannya, baik yang sepuh, paruh baya, maupun muda, tindakan itu amatlah menjengkelkan dan mengganggu ibadah.

Terutama saat ini, kita dapat memperhatikan, setelah dipulihkannya bahasa liturgi melalui terjemahan baru yang telah kita gunakan sejak Adven 2011. Terjemahan-terjemahan ini memang tidak bebas dari kesalahan, namun merupakan perbaikan yang besar dari yang kita miliki sebelumnya. Dengan menghadirkan kembali bahasa-bahasa suci yang telah hilang dalam terjemahan yang lama, terjemahan yang baru ini mengingatkan kita bahwa Misa lebih dari sekedar pertemuan sosial. Misa adalah tindakan ibadah, yang keagungannya harus terlihat dalam bahasa yang digunakan dalam liturgi, yang tentu berbeda dengan bahasa yang digunakan di pusat perbelanjaan atau pesta olahraga.

Namun, di satu sisi, terjemahan yang baru ini justru memperburuk. Misalnya, ketika seorang Imam berusaha menunjukkan betapa ramahnya dirinya kepada umatnya dengan cara mengubah kata-kata di teks Misa menjadi kata-kata yang menurutnya lebih manis, sebenarnya Imam itu memberi suatu kejanggalan yang seketika itu juga akan ditangkap oleh mereka yang berperhatian penuh. Dan kejanggalan ini akan menyulitkan mereka untuk berdoa.

Oleh karena itu, sambil menyambut tahun baru ini, saya ingin memberi saran kepada Romo-Romo kita dalam Kristus, agar mereka berhenti dan menahan diri dari tindakan membuat-buat, mencoba membuat lebih menarik, dan mengutak-atik kata-kata dalam buku Misa. Sebagaimana yang seharusnya dalam liturgi, perbedaan warna tulisan dalam buku Misa dipakai untuk membedakan mana yang dibaca dan mana yang dilakukan, dan pedomannya adalah “Bacalah yang hitam dan lakukanlah yang merah”. Hanya itu, Romo. Bacalah yang hitam dan lakukanlah yang merah. Atau yang lebih baik, doakanlah yang hitam dan lakukanlah yang merah.

Tindakan buruk para selebran semacam itu juga lama-lama akan melenyapkan klerikalisme. Dengan bersikap tidak hormat pada perintah-perintah Konsili, mereka sesungguhnya menyatakan bahwa mereka memiliki kuasa sendiri atas liturgi. Dan dengan berbuat demikian, secara sadar atau tidak sadar, mereka merendahkan peran umat dalam mempersembahkan ibadah yang benar kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dalam Misa yang dipersembahkan dengan benar, dialog doa yang disuarakan antara selebran dan umat terjadi dalam irama yang sudah ditetapkan dalam teks Misa. Dan irama tersebut akan rusak ketika, misalnya, selebran membuka pembacaan Injil dengan berkata, “Kabar Gembira dari Tuhan sebagaimana diwartakan oleh Lukas”. Jawaban yang seharusnya, yaitu “Dimuliakanlah Tuhan”, menjadi terasa aneh. Jawaban tersebut sudah sesuai untuk menjawab kata pembuka yang benar, yaitu “Inilah Injil Yesus Kristus menurut —-”.

Tindakan buruk selebran yang demikian mungkin awalnya mengejutkan, tetapi setelah lebih dari empat dekade dilakukan secara terus-menerus, itu sudah menjadi kebiasaan lama. Romo, Anda tidak pantas melakukannya. Tindakan Anda itu menghilangkan kesakralan Misa, bahkan konyol. Lebih dari itu, Anda meremehkan kami dengan memberikan kesan bahwa kami, para umat, tidak mampu bertahan dengan bahasa liturgi yang sakral sehingga kami perlu dihibur supaya mau berpartisipasi. Bahkan, bila Anda mendengarkan dengan seksama, dapat Anda lihat bahwa respon umat malah menurun ketika Anda mengajak mereka untuk merespon dengan cara Anda sendiri, bukan dengan cara liturgi.

Jadi, tolong, para Romo dalam Kristus, hentikanlah upaya-upaya Anda berkreativitas, atau menjadikan teks Misa lebih ramah, atau apapun yang Anda lakukan itu. Yakinlah, upaya-upaya semacam itu tidak berhasil. Kami hanya meminta tolong agar Anda mendoakan yang hitam dan melakukan yang merah. Dengan demikian, ibadah yang dimaksudkan oleh Vatikan II akan terwujud dengan lebih baik.

[Diterjemahkan langsung oleh Sdr. Jonathan Hoseana dari http://www.firstthings.com/web-exclusives/2016/01/dear-father-please-stop-it]

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/romo-tolong-hentikan-itu/

Oct 25

MISA LATIN – FORMA ORDINARIA

Introitus (Mzm. 17:1)

Ego clámavi, quóniam exaudísti me, Deus; inclína aurem tuam, et exáudi verba mea. Custódi me, Dómine, ut pupíllam óculi; sub umbra alárum tuárum prótege me. (Kepada-Mu aku berseru, sebab Engkau menjawab aku, ya Allah; condongkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku! Jagailah aku sebagai biji mata; dibawah naungan sayap-Mu sembunyikanlah aku! )

Pada hari / tanggal: Sabtu, 18 Oktober 2015, tepat pukul 18.30 WIB Komunitas Liturgia Latina St. Yohanes XXIII menyelenggarakan Misa Kudus Forma Ordinaria dalam bahasa latin untuk Minggu biasa ke – XXIX di Gedung PUSPAS, Pontianak. Misa kudus dipersembahkan oleh Yang Mulia, Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, Uskup Agung Emeritus Pontianak.

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah Misa latin itu hanya boleh dirayakan dalam bentuk misa sebelum Konsili Vatikan II( Forma Extraordinaria)?” Perlu ditekankan bahwa justru Misa kudus dalam bahasa latin dengan bentuk biasa (Forma Ordinaria) dijunjung tinggi oleh Gereja. Bahasa latin mendapat tempat utama dalam perayaan Ekaristi ritus latin walaupun bahasa vernakular (bahasa daerah) dapat digunakan juga pada liturgi asalkan mendapat izin dari tahta suci Vatikan (bdk. Kan. 928 – Perayaan Ekaristi hendaknya dilaksanakan dalam bahasa latin atau bahasa lain, asalkan teks liturginya sudah mendapat aprobasi secara legitim.). Dengan bahasa latin, Gereja bermaksud untuk merangkul umat beriman justru memerlukan bahasa yang tidak berubah dan tidak vernakular (Paus Pius XI, Officiorum Omnium -1922). Umat tidak perlu khawatir jika tidak mengerti bahasa latin, karena juga disediakan booklet / Tata Perayaan Ekaristi dalam dwi bahasa: Latin – Indonesia.

Misa kudus berlangsung dengan khidmat dengan lagu – lagu gregorian serta polifoni suci oleh kelompok koor Alyans. Seturut bacaan Sabda pada Minggu biasa ke – XXIX mengenai melayani, Mgr. Hieronymus Bumbun mensoroti pelayanan yang hanya tindakan/perbuatan (action) saja, namun melupakan prinsip pelayanan yang diwartakan oleh Yesus Kristus.

Cara menyambut komuni pun dengan menggunakan lidah. Tidak ada yang salah menerima komuni di tangan dalam misa Kudus Forma Ordinaria. Perlu diketahui juga, cara menyambut tubuh Kristus dengan lidah merupakan cara / norma Gereja Katolik, sedangkan menerima komuni dengan tangan adalah cara yang perlu izin (recognition) dari Tahta Suci Vatikan. Hal ini tercantum dalam dokumen Redemptionis Sacramentum, No. 92: “Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat, dengan RECOGNITIO oleh Takhta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni; sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/misa-latin-forma-ordinaria/

Jul 15

LGBT Trend

Belakangan ini marak beredar berita mengenai LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender), karena akhirnya kelompok tersebut diakui hak nya untuk menikah secara legal di Amerika Serikat. Parahnya adalah, banyak pula umat Katolik terutama di Indonesia yang mengikuti trend mengubah Profile-Picture di Facebook dengan background pelangi sebagai tanda dukungan dan merayakan legalisasi pernikahan LGBT. Padahal Gereja Katolik dengan jelas menentang pernikahan sesama jenis yang TENTU MELANGGAR KODRAT PERKAWINAN suci, yaitu antara wanita tulen dengan pria tulen. Mari kita lihat pula 3 elemen dasar perkawinan menurut rencana Tuhan dikutip dari situs Katolisitas.org.

Tiga elemen dasar perkawinan menurut rencana Tuhan

Tiga prinsip dasar tentang rencana Allah untuk perkawinan adalah (#3)

1. Manusia sebagai gambaran Allah, diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27).
Pria dan wanita adalah sama sebagai pribadi dan saling melengkapi sebagai laki-laki dan perempuan. Seksualitas adalah sesuatu yang tidak hanya berhubungan dengan hal fisik dan biologi, tetapi telah diangkat ke tingkat ‘pribadi’, di mana kodrat dan roh disatukan.

2. Perkawinan ditetapkan oleh Tuhan sebagai bentuk kehidupan di mana sebuah persekutuan pribadi dinyatakan dengan melibatkan kemampuan seksual.
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24)

3. Tuhan telah menghendaki untuk memberikan kepada persatuan antara pria dan wanita sebuah partisipasi/ kerjasama yang istimewa di dalam karya penciptaan-Nya.
556763_10151499265575155_1236310103_n
Oleh karena itu Allah memberkati pria dan wanita dengan perkataan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Dengan demikian, di dalam rencana Tuhan, kodrat perkawinan adalah saling melengkapi dalam hal seksual dan kemampuan berkembang biak. Persatuan homoseksual tidak dapat memberikan kontribusi yang layak terhadap prokreasi dan kelanjutan generasi umat manusia (survival of the human race).

Selanjutnya, persatuan perkawinan antara pria dan wanita telah diangkat oleh Kristus ke martabat sakramen. Gereja mengajarkan bahwa perkawinan Kristiani adalah tanda yang nyata akan perjanjian Kristus dan Gereja (lih. Ef 5:32). Makna Kristiani tentang perkawinan meneguhkan dan memperkuat persatuan perkawinan antara pria dan wanita.

Lalu apa sikap terbaik kita terhadap kaum LGBT? Gereja Katolik tentu tidak serta-merta mengecam tanpa adanya suatu sikap kasih yang ditunjukkan. Menurut ajaran Gereja, mereka yang mempunyai kecenderungan homoseksual harus diterima dengan hormat, dengan belas kasih dan dengan sensitivitas. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil yang dikarenakan oleh kecenderungan tersebut harus dihindari. “Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan biiaksana. Orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil.” (KGK 2358). Mereka, seperti halnya semua umat beriman, dipanggil untuk hidup murni, namun kecenderungan homoseksual tetaplah menyimpang (KGK 2358) dan perbuatan homoseksual adalah dosa melawan kemurnian (KGK 2396). (#4) Dengan demikian, tidak ada dasar untuk mempertimbangkan persatuan homoseksual sebagai sesuatu yang mirip ataupun bahkan sedikit menyerupai gambaran rencana Tuhan untuk perkawinan dan keluarga.

Maka dari itu, segala sesuatu yang sedang “heboh” atau “trend” baik di dunia maya maupun dunia nyata, hendaknya dapat ditanggapi dengan bijak oleh umat Katolik. Mengubah Profile Picture di Facebook dengan latar pelangi bisa jadi hanya karena ingin mengikuti trend tersebut, tanpa menyadari bahwa hal tersebut secara tidak langsung mendukung apa yang dilarang oleh Gereja Katolik bahkan oleh Allah sendiri. Perbuatan Homoseksual sendiri adalah suatu hal yang dikecam dan terdapat pada ayat Kitab Suci (lih. Rm 1:24-27, 1Kor 6:10; 1Tim 1:10), karena secara mendasar perbuatan itu menyimpang!!!

Semoga teman-teman yang terkasih semakin bijaksana lagi dalam menghadapi segala trend yang bertentangan dengan Gereja Katolik. Ingat, mengikuti sebuah trend jangan sampai mengorbankan iman kita.

~Ad Jesum per Mariam~

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/lgbt-trend/

Jul 04

Tuhan adalah kekuatan umat-Nya (Introitus – Dominica VI post pentecosten)

DOMINICA SEXTA POST PENTECOSTEN

July 5 multiplication of loaves

Introitus:

Dóminus fortitudo plebis suæ, et protéctor salutárium Christi sui est: salvum fac pópulum tuum, Dómine, et benedic hereditáti tuæ, et rege eos usque in saeculum (Ps 27:8-9).
Ad te, Dómine, clamábo, Deus meus, ne síleas a me: ne quando táceas a me, et assimilábor descendéntibus in lacum (Ps 27:1).
V. Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto.
R. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper, et in saecula saeculórum. Amen
Dóminus fortitudo plebis suæ, et protéctor salutárium Christi sui est: salvum fac pópulum tuum, Dómine, et benedic hereditáti tuæ, et rege eos usque in saeculum.

Antifon Pembuka:
Tuhan adalah kekuatan umat-Nya, dan pelindung keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya: selamatkanlah umat-Mu, ya TUHAN, dan berkatilah warisan-Mu, dan pimpinlah mereka untuk selama-lamanya (Mazmur 28:8-9).
Mazmur 27: 1
Bagi-Mu, ya Tuhan, aku berseru, ya TUHAN-ku, janganlah berdiam diri terhadapku: sebab jika Engkau diam mendiamkan daku, aku menjadi seperti mereka yang turun ke dalam liang kubur (Mazmur 28:1).
Kemuliaan …
Tuhan adalah kekuatan umat-Nya, dan pelindung keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya: selamatkanlah umat-Mu, ya TUHAN, dan berkatilah warisan-Mu, dan pimpinlah mereka untuk selama-lamanya.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/tuhan-adalah-kekuatan-umat-nya/

Jun 14

Réspice in me (Introitus – Dominica Tertia post Pentecosten)

juni 14 introitus

Réspice in me et miserére mei, Dómine: quóniam únicus et pauper sum ego: vide humilitátem meam et labórem meum: et dimítte ómnia peccáta mea, Deus meus (Ps 24:16; 24:18).
Ad te, Dómine, levávi ánimam meam: Deus meus, in te confído, non erubéscam (Ps 24:1-2).
V. Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto.
R. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper, et in saecula saeculórum. Amen
Réspice in me et miserére mei, Dómine: quóniam únicus et pauper sum ego: vide humilitátem meam et labórem meum: et dimítte ómnia peccáta mea, Deus meus.

 

Look toward me, and have pity on me, O Lord, for I am alone and afflicted. Put an end to my affliction and my suffering, and take away all my sins, O my God.
To You, I lift up my soul, O Lord. In You, O my God, I trust; let me not be put to shame.
V. Glory be to the Father, and to the Son, and to the Holy Ghost.
R. As it was in the beginning, is now, and ever shall be, world without end. Amen.
Look toward me, and have pity on me, O Lord, for I am alone and afflicted. Put an end to my affliction and my suffering, and take away all my sins, O my God.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/respice-in-me-introitus-dominica-tertia-post-pentecosten/

May 30

Benedícta sit sancta Trínitas atque indivísa Unitas (Introitus – Dominica Sanctissimae Trinitatis)

Dominica Sanctissimae Trinitatis

may 31 Trinity

Introitus
Tob 12:6.
Benedícta sit sancta Trínitas atque indivísa Unitas: confitébimur ei, quia fecit nobíscum misericórdiam suam
Ps 8:2
Dómine, Dóminus noster, quam admirábile est nomen tuum in univérsa terra!
V. Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto.
R. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper, et in saecula saeculórum. Amen
Benedícta sit sancta Trínitas atque indivísa Unitas: confitébimur ei, quia fecit nobíscum misericórdiam suam.

Introit
Tob 12:6
Blessed be the Holy Trinity and undivided Unity: we will give glory to Him, because He has shown His mercy to us.
Ps 8:2
O Lord, our Lord, how glorious is Your Name over all the earth!
V. Glory be to the Father, and to the Son, and to the Holy Ghost.
R. As it was in the beginning, is now, and ever shall be, world without end. Amen.
Blessed be the Holy Trinity and undivided Unity: we will give glory to Him, because He has shown His mercy to us.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/benedicta-sit-sancta-trinitas-atque-indivisa-unitas-introitus-dominica-sanctissimae-trinitatis/

May 29

Y.M. Hieronymus Herculanus Bumbun & Misa Forma Extraordinaria

Bermula dari keinginan beberapa umat Katolik yang menginginkan Misa Latin Tradisional hadir di Pontianak. Segala perencanaan dan teknis untuk merealisasikan Misa sudah dirancang, namun semua terhalang suatu hal, yakni mencari Imam yang akan menjadi selebran Misa.

Beberapa bulan kemudian, ada Imam yang bersedia merayakan Misa Forma Extraordinaria. DIalog dilakukan, dan pada akhirnya disarankan untuk meminta persetujuan dari Uskup Agung Pontianak. Ketika menghadap Y.M Hieronymus Herculanus Bumbun (kala itu masih Uskup Agung Pontianak), singkatnya Y.M. Hieronymus H.B memberikan restu atas Misa Kudus dalam bentuk luar biasa ini. Beliau juga menceritakan bagaimana dulu terdapat seorang Uskup (Mgr. Levebre) mempertahankan Misa ini.

Setelah memperoleh restu dari Uskup, tidak lama kemudian Keuskupan Agung Pontianak memiliki Uskup Baru yang menggantikan posisi Y.M. Hieronymus H.B, Y.M. Agustinus Agus. singkatnya, Y.M. Agustinus Agus juga merestui Misa Forma Extraordinaria.

Beberapa bulan berjalan seperti biasa seraya menunggu jadwal Imam yang bersedia mempersembahkan Misa Kudus ini. Karena jadwal imam tersebut padat, maka pada tanggal 8 Februari 2015, anggota Komunitas Liturgia Latina St. Yohanes XXIII bertemu dengan Uskup Agung Emeritus di Sakristi Katedral St Yosef Pontianak, membicarakan Misa ini dan meminta kesediaannya untuk mempersembahkan Misa Forma Extraordinaria. Jawaban yang sungguh menyenangkan, beliau bersedia menjadi selebran Misa Latin Tradisional untuk pertama kalinya di Pontianak. Proses menuju terselenggaranya Misa pun di awali dengan menetapkan tanggal dan waktu Misa, latihan Misa, mencetak buku Misa untuk Imam dan teks Misa untuk umat. Komunitas Liturgia Latina St. Yohanes XXIII sangat berterima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu terselenggarakan Misa ini, baik dalam hal material maupun doa.

Pada tanggal 01 Maret 205, jam 08.30 WIB Misa berlangsung khidmat di Kapel St. Antonius. Dihadiri oleh Umat -+ 105 dari berbagai paroki dan dihadiri pula oleh beberapa suster yang memiliki kerinduan Misa dalam bahasa latin.

Patutlah kita mengucap syukur karena dibeberapa tempat, khususnya di wilayah Indonesia dapat mencicipi rahmat surgawi dengan Misa Forma Extraordinaria. kita patut bersyukur juga karena di Indonesia, kita memiliki seorang Uskup yang bersedia memimpin Misa Latin Tradisional, dan tentunya Y.M. Hieronymus herculanus Bumbun merupakan USKUP di INDONESIA yang pertama kali mengurbankan Misa Latin Tradisional sejak Gereja menerbitkan Misale Romanum 2002 (Forma Ordianaria). Baca juga: MISA LATIN TRADISIONAL PONTIANAK

Y.M. Hieronymus Herculanus Bumbun

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/y-m-hieronymus-herculanus-bumbun-misa-forma-extraordinaria/

Older posts «