«

»

Feb 22

Print this Post

Apakah berpantang daging masih relevan?

Tulisan ini menjawab beberapa tanggapan terhadap tulisan saya sebelumnya: “Ketika harga ikan membatalkan pantang daging.”

makan apa

Kita patut memeriksa diri ketika berpantang daging membuat kita memberontak.

Jika saya hendak merangkum tanggapan-tanggapan terhadap tulisan saya sebelumnya, kurang lebih akan demikian: kita tidak harus berpantang daging, kita boleh memilih hal lain yang sesuai dengan keadaan kita, yang penting adalah makna dari berpantang yaitu membantu kita bertobat.

Dari rangkuman di atas tidak ada permasalahan dengan pantang itu sendiri. Saya mungkin perlu mengulangi di sini bahwa perpantang pada hari Jumat mengingatkan kita akan penderitaan dan kematian Tuhan Kita Yesus Kristus pada hari Jumat Agung. Hari Jumat adalah juga hari penitensi, sehingga berpantang pada hari tersebut membantu kita masuk dalam proses pertobatan dan juga menjadi silih atas dosa-dosa kita.

Yang menjadi perhatian adalah mengapa harus berpantang daging. Apakah berpantang daging tidak boleh diganti dengan hal yang lain seperti berpantang marah, gosip, rokok, garam, gula, kue, internet, televisi, atau sex? Apakah berpantang daging tidak boleh diganti dengan berhemat uang jajan, air, listrik atau melakukan aksi sosial seperti menanam pohon, mengolah sampah, menjengguk orang sakit?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas biasanya diperkuat dengan kasus-kasus tertentu misalnya mereka yang tidak makan (vegetarian) atau tidak suka daging atau mereka yang tidak/kurang mampu membeli daging. Tidak ada yang mereka perlu korbankan. Tidak sulit buat mereka untuk berpantang daging pada hari Jumat. Kita dapat menyimpulkan bahwa meminta mereka yang memang tidak suka daging atau tidak mampu membeli daging untuk berpantang daging adalah hal yang tidak relevan. Supaya mereka yang tidak (suka makan) daging dan tidak mampu membeli daging juga berpantang, kita berpikir ada kemungkinan menggantikan daging dengan hal-hal lain. Kesimpulan ini yang awalnya dimaksudkan untuk menjawab kasus-kasus tertentu menjadi kesimpulan umum: berpantang daging boleh digantikan dengan hal-hal lain karena yang penting adalah berpantang. Nanti kita akan kembali membahas persoalan tentang mereka yang tidak (suka) makan daging dan tidak/kurang mampu membeli daging.

Sebelum menjawab “mengapa mesti daging,” saya mencoba lebih dahulu memaparkan apa yang kita maksudkan dengan daging di sini. Pada umumnya yang dimaksud dengan daging adalah yang berasal dari binatang berkaki dua dan empat. Dengan demikian ikan dan serangga dianggap bukan daging. Tetapi di beberapa daerah ikan termasuk daging. Bukanlah persoalan kita sekarang menentukan apakah ikan, telur, atau susu termasuk daging atau tidak, karena mereka yang menganggap ikan, telur, atau susu termasuk daging juga sepakat menekankan berpantang daging, bukan berpantang hal lainnya.

Mengapa mesti daging? Beberapa penjelasan bisa diberikan. Pertama, daging telah diasosiasikan dengan pesta dan kemewahan. Memang betul bahwa dengan kemajuan teknologi dan bisnis peternakan, semakin banyak orang mampu menikmati daging setiap hari. Jadi bukan lagi sesuatu yang mewah dan selalu berhubungan dengan pesta. Tetapi lepas dari perubahan situasi ini, sebuah pesta akan terasa pesta karena ada daging yang tersedia. Dan meskipun konsumsi daging sudah menjadi umum, daging tetap dianggap mempunyai nilai lebih. Dengan demikian ketika kita berpantang daging, kita hendak menyatakan baik secara akal maupun dengan badan kita, bahwa kita sedang menjalani hari yang istimewa, hari penitensi, hari berdukacita atas dosa-dosa kita, bukan hari berpesta atau bersukaria.

Kedua, kata “daging” selalu berhubungan dengan hawa nafsu, sehingga tidak mengherankan jika kita mempunyai ungkapan: hal-hal atau perbuatan kedagingan. Dengan demikian ketika kita berpantang daging, kita mau menyatakan dengan akal budi dan badan kita bahwa kita lagi belajar menahan hawa nafsu kita, kita lagi belajar menjauhkan diri kita dari perbuatan-perbuatan kedagingan (dosa).

hosti-cross2

Dengan berpantang daging, kita mengingat penderitaan dan kematian Tuhan Kita Yesus Kristus dan membuat kita merindukan Tubuh Kristus yang bangkit dan hidup yang adalah makanan hidup bagi jiwa kita.

Ketiga, menghubungkannya dengan Tuhan Kita Yesus Kristus. Daging yang kita makan entah sering atau bahkan setiap hari berasal dari binatang mati bahkan boleh dikatakan bangkai. Jika kita merenungkan berpantang daging dalam konteks hidup Kristiani yang luas yaitu kita dibebaskan dari sesuatu untuk sesuatu yang mulia, maka berpantang daging berarti kita membebaskan diri dari daging yang adalah binatang mati (bangkai) supaya kita merindukan Tubuh Kristus yang bangkit dan hidup. TubuhNya adalah sungguh makanan hidup bagi jiwa kita. Secara sadar baik dengan akal maupun dengan badan, kita memberi tempat yang lebih luas kepada Tubuh Kristus dalam hidup kita. Ketika kita berpantang daging pada hari Jumat, kita tidak hanya mengingat penderitaan dan kematian Yesus pada hari Jumat tetapi juga membuat kita merindukan Tubuh Kristus yang hendak kita lihat, sembah, dan/atau terima pada hari Minggu.

Mengapa mesti daging? Jika alasan-alasan yang saya berikan di atas belum memuaskan dan kita masih ingin membenarkan diri untuk mengantikan daging dengan hal-hal lain, maka penjelasan berikut mungkin menyentuh akar permasalahan sebenarnya yaitu kesombongan dan ketidaktaatan kita. Kita hidup dalam dunia di mana kedewasaan dan kemandirian dijunjung tinggi. Kita mungkin berpikir bahwa adalah kita dewasa dan mandiri ketika kita bebas menentukan apa yang baik dan buruk bagi kita. Banyak orang tidak makan daging karena alasan ekonomi, kesehatan, moral, dan ekologi. Kita berpikir Gereja tidak perlu lagi menentukan apa yang orang hendak makan atau tidak. Orang sudah bisa menentukannya atas pertimbangan ekonomi, kesehatan, dan ekologi.

Memang betul dan saya tidak menyangsingkan bahwa Tuhan tidak membutuhkan kita berpantang daging. Tuhan tidak menginginkan kita menderita karena kita harus mengurbankan kenikmatan daging. Saya setuju bahwa kita tidak menjadi suci – supaya layak dan dekat dengan Tuhan – hanya karena berpantang daging. Hanya saja, inti dari kekudusan itu dalah kasih dan cara kita menyatakan kasih itu adalah melalui ketaatan. Dengan demikian, berpantang daging meskipun tidak secara otomatis membuat kita lebih dekat kepada Tuhan, tetapi mempunyai nilai ketaatan kita kepada Gereja yang Kristus sendiri dirikan. Kita belajar menjadi taat kepada Bapa lewat Gereja. Kita adalah orang berdosa yang sering memberontak untuk melakukan segala sesuatunya dengan cara kita sendiri. Kita lebih yakin pada diri kita sendiri dan tidak mau memercayakan diri kita lagi kepada tangan Bapa. Jika kita menganggap bahwa berpantang daging tidak relevan lagi, sesuatu yang sia-sia atau kita menggantinya dengan hal yang kita kehendaki, kita perlu memeriksa batin, apakah yang menjadi latar belakang semuanya itu? Mungkin saja kita lagi melawan dan tinggi hati. Lebih pintar dan dewasa.

nasi

Mengapa menambahkan sesuatu yang lain ketika nasi sudah cukup pada hari pantang dan puasa?

Sekarang tinggal menjawab pertanyaan yang kita tunda yaitu bagaimana dengan mereka yang tidak (suka) makan daging atau tidak mampu membeli daging. Pertama, janganlah kita memakai situasi mereka sebagai pembenaran atas ketidakinginan atau ketidaksetujuan kita berpantang daging. Urusan mereka bukanlah urusan kita. Kedua, mereka yang tidak (suka) makan daging dan tidak mampu membeli daging tidak berarti bahwa berpantang daging adalah hal yang mudah bagi mereka. Mereka juga bergulat dengan keinginan untuk makan daging. Pada hari Jumat, supaya situasi mereka – yaitu tidak makan daging karena alasan kesehatan dan ekonomi – tetap merupakan sebuah pantang, cukuplah mereka meniatkan bahwa mereka tidak makan daging karena mereka lagi berpantang. Dengan demikian hari Jumat tetaplah hari penitensi bagi mereka.

Sebagai penutup, kita sering membuat hal yang sederhana menjadi rumit. Gereja tidak pernah menuntut banyak dan melebihi kemampuan kita. Tuhan lewat GerejaNya menggariskan yang minimum. Mengapa kita perlu menambahkan lagi dengan hal-hal lain atau mengantikan daging dengan hal-hal lain, ketika Gereja hanya meminta kita berpantang daging saja? Jika itu terlalu mudah bagi sebagian orang, mengapa mempersoalkannya? Persoalan kita adalah apakah kita mau taat dalam hal-hal kecil seperti berpantang daging? Apakah kita rela mengambil langkah yang sederhana ini menuju kesucian? Selamat melanjutkan masa pra-Paskah. Tuhan memberkati.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/apakah-berpantang-daging-masih-relevan/

Leave a Reply