«

»

Dec 30

Print this Post

Bayi dan Tuhan (Introitus – 1 Januari)

In illo tempore: Postquam consummati sunt dies octo ut circumcideretur puer.

In illo tempore: Postquam consummati sunt dies octo ut circumcideretur puer.

Puer natus est nobis, et fílius datus est nobis: cuius impérium super húmerum eius: et vocábitur nomen eius magni consílii Angelus. (Is 9:6). Cantáte Dómino cánticum novum, quia mirabília fecit. (Ps 97:1)

Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper, et in saecula saeculórum. Amen

Puer natus est nobis, et fílius datus est nobis: cuius impérium super húmerum eius: et vocábitur nomen eius magni consílii Angelus.

Seorang bayi sudah lahir bagi kita, seorang Putera telah dianugerahkan kepada kita, pemerintahan diletakkan di atas pundakNYa; dan Ia akan dinamakan: Utusan Dewan Agung. (Yes 9:6). Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu baru, sebab Ia telah melakukan hal-hal yang ajaib. (Mz 98:1). Kemuliaan…

 1 jan in_puer_natus

Renungan singkat:

Antifon Pembukaan untuk 25 Desember adalah sama dengan yang untuk 1 Januari. Bisa saja dipakai untuk menandai dimulainya dan berakhirnya oktaf Natal. Kali ini kita akan merenungkan hubungan antara bayi dengan Tuhan.

Bayi mendapat tempat khusus dalam karya penyelamatan Tuhan. Antifon Pembukaan menyatakan bahwa “seorang bayi sudah lahir bagi kita.” Tuhan sudi lahir sebagai seorang bayi ke dunia untuk datang menyelamatkan manusia. Peristiwa di Betlehem dan di Golgota, dua peristiwa yang menyatakan secara konsisten bagaimana Tuhan menyelamatkan manusia yaitu dengan solidaritas. Ia ikut menanggung kerapuhan dan dosa manusia supaya manusia tidak kehilangan harapan untuk ambil bagian dalam kemuliaan Tuhan.

Apakah manusia sungguh tertarik pada karya penyelamatan Tuhan itu? Sejauh mana kita serius dengan keselamatan kita? Apakah tujuan hidup kita adalah hidup kekal atau ambil bagian dalam kemuliaan Tuhan? Pertanyaan ini kita bisa jawab dengan melihat cara berpikir kita terhadap keberadaan bayi.

bayi

Mereka yang mempermasalahkan keberadaan bayi kemungkinan besar mempunyai masalah dengan Tuhan. Tidakkah kita mendengar bagaimana sejumlah wanita atas nama kebebasan yang berteriak bahwa mereka adalah tuhan atas kandungan mereka. Mereka ingin pemerintah, masyarakat, bahkan agama menyetujui aborsi karena bayi yang ada dalam kandungan adalah parasit. Tidakkah kita mendengar semakin banyak baik wanita maupun laki-laki yang berusaha membenarkan diri atas pemakaian alat kontrasepsi, masturbasi dan sodomi yang mana tidak memungkinkan lahirnya seorang bayi. Pemikiran dan aksi yang tidak menginginkan bayi sebenarnya adalah pemikiran dan aksi di mana Tuhan tidak mempunyai tempat. Mereka mengambil posisi Tuhan. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai tuhan. Mereka tidak peduli apakah neraka dan surga itu ada, atau sekurang-kurangnya percaya bahwa semua orang akan masuk surga.

Amat berbeda dengan mereka yang menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Bagi mereka, bayi adalah anugerah dari Tuhan. Mereka terbuka terhadap rencana Tuhan. Mereka tidak menuntut dan juga tidak menolak. Mereka taat kepada ajaran Gereja dan mempunyai anak-anak lebih banyak. Kosa kata mereka: ketaatan, kesederhanaan, kemurnian, disiplin, matiraga, korban, penyelanggaran illahi, syukur, doa, percaya, belaskasih, pengampunan dan sejenisnya. Mereka yang menerima bayi sebagai anugerah – entah itu diberikan atau tidak – akan hidup seperti bayi yaitu memercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Ketika kita melihat seorang bayi, hendaknya kita mengingat bahwa kita ini adalah juga bayi di hadapan Tuhan. Kita rapuh dan terbatas, dan butuh belaskasih Tuhan. Kita perlu juga ingat bahwa Tuhan telah memberi kita seorang bayi untuk mengangkat kita dari kerapuhan kita. Bayi itu adalah Yesus Kristus.

bayi2

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/bayi-dan-tuhan-introitus-1-januari/

Leave a Reply