«

»

Nov 27

Print this Post

Berlutut Saat Menghadiri Misa

oleh: Frans Sule, CICM

Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang tertarik untuk menghadiri Misa Forma Ekstraordinaria atau bahkan sudah menghadirinya beberapa kali, tetapi masih bertanya-tanya tentang sikap apa yang tepat saat menghadiri Misa Forma Ekstraordinaria ini. (Selanjutnya kata ‘Misa’, ‘Kurban Misa’ atau ‘Misa Kudus’ dibaca ‘Misa Forma Ekstraordinaria.) berlutut-1

Berangkat dari pengalaman saya – selain mempersembahkan Kurban Misa, saya juga banyak kali menghadiri Misa – sikap yang saya usulkan adalah sikap menyembah seperti yang kita lakukan di depan Sakramen Mahakudus. Yang sering kita lakukan di depan Sakramen Mahakudus kurang lebih demikian: berlutut sambil berkeluh kesah bahkan disertai airmata atau sambil memuji dan memuliakan Tuhan. Kurang lebih inilah yang juga bisa terjadi jika kita menghadiri Misa.

Ketika kita menghadiri Misa dari awal sampai akhir, kita berada di hadapan Tuhan. Bukan lagi waktunya untuk bercakap-cakap dengan orang di samping kita sejak kita masuk gereja. Langsung kita berlutut di hadapan Tuhan yang hadir di tabernakel. Mungkin dari rumah pikiran kita sudah penuh dengan apa yang hendak kita ungkapkan kepada Tuhan. Ungkapkanlah itu, Tuhan mendengarkan. Atau berdiam diri merasakan kehadiran Tuhan, membiarkan pikiran kita dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Sikap berlutut membantu pikiran dan perasaan kita menyadari kehadiran Tuhan. Kita perlu mengambil waktu berlutut di hadapan Tuhan untuk merasakan kehadiran-Nya. Semakin lama kita berlutut, semakin lama pula kita merasakan kehadiran Tuhan. Meskipun lutut terasa sakit, itu tidak sebanding dengan kehadiran Tuhan yang lagi memenuhi diri kita.

Rubrik Misa sebenarnya tidak terlalu banyak mengatur sikap badan dari umat saat menghadiri Misa Kudus. Ini memberikan keleluasan kepada kita untuk berdoa secara pribadi dengan sikap berlutut. Jika kita menghadiri Misa sederhana (low Mass, Misa dibacakan) yang berlangsung kurang lebih setengah jam, kita bisa dan mampu berlutut sepanjang Misa. Tetapi jika kita menghadiri Misa meriah (high Mass, Misa dinyanyikan) bagian-bagian yang mendukung untuk berdoa secara pribadi dengan sikap berlutut adalah dari awal sampai bacaan pertama, lantas sesudah “Aku Percaya” (Credo). Kita tidak wajib ikut menyanyi bersama koor. Malah bisa merusak keindahan suara mereka. Lebih baik kita mendengarkan. Dengan demikian, lagu-lagu yang dibawakan oleh koor bisa membuat kita hanyut dalam doa. Atau sambil mendengarkan, kita memikirkan orang-orang yang hendak kita doakan atau peristiwa-peristiwa penting baik yang susah maupun gembira atau kebaikan-kebaikan yang telah kita terima dari sesama maupun dari Tuhan. Dengan sendirinya ini membuat kita berdoa.

Yang patut kita pikirkan atau intensikan ialah bahwa devosi atau doa pribadi yang kita sedang lakukan itu, kita persatukan dengan Kurban Misa yang sedang dipersembahkan oleh imam.

Doa dan devosi apa saja yang bisa kita lakukan saat Misa berlangsung? Sering dengan struktur Misa, kita boleh mulai dengan memeriksa batin yang dilanjutkan dengan doa tobat. Bisa dilanjutkan dengan mendoakan litani yang ada banyak macamnya. Atau merenungkan bacaan Kitab Suci hari itu. Atau melakukan devosi kepada santo/a yang hari itu diperingati. Ada juga umat yang berdoa rosario sepanjang Misa. Ada baiknya kita menyiapkan diri dengan buku doa yang berisi berbagai macam doa, litani dan devosi terhadap santo santa. Tentunya semua devosi dan doa pribadi ini dibuat dalam hati dengan kata lain tanpa bersuara supaya orang lain tidak terganggu.

Lebih penting lagi, ketika kita pergi menyambut Tubuh Kristus, kita dalam keadaan berahmat, lepas dari dosa berat. Tidak mengherankan jika kita melihat antrian di depan kamar pengakuan lebih panjang dari pada saat komuni. Ini bagian dari penghormatan kita terhadap Tuhan.

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/berlutut-saat-menghadiri-misa/

3 comments

  1. Viktorius

    mau tanya .. kalau dalam Misa Novus Ordo kan dilarang berdoa rosario

    kalau di FE tidak dilarang ?

    krn berdasarkan sumber yang saya terima.. praktik devosi tdk diizinkan dalam Misa seperti berdoa Rosario

    Dari Anjuran Apostolik Marialis Cultus oleh Paus Paulus VI:
    Artikel 31:
    “It sometimes happens that novenas or similar practices of piety are inserted into the very celebration of the Eucharistic Sacrifice. This creates the danger that the Lord’s Memorial Rite, instead of being the culmination of the meeting of the Christian community, becomes the occasion, as it were, for devotional practices. For those who act in this way we wish to recall the rule laid down by the Council prescribing that exercises of piety should be harmonized with the liturgy not merged into it.”
    Artikel 48:
    “However, it is a mistake to recite the Rosary during the celebration of the liturgy, though unfortunately this practice still persists here and there. ”

    http://www.vatican.va/…/hf_p-vi_exh_19740202_marialis…
    Dari Direktorium tentang Ulah Kesalehan dan Liturgi :
    Artikel 73:
    Ajaran Gereja mengenai hubungan antara liturgi dan ulah kesalehan dapat diringkas sebagai berikut: liturgi, sedari hakikatnya, jauh mengungguli ulah kesalehan, sehingga praktik pastoral harus selalu memberikan kepada liturgi kudus “tempat lebih unggul yang selayaknya ia miliki dalam hubungan dengan ulah kesalehan”; liturgi dan ulah kesalehan hidup selaras dengan hierarki nilai dan hakikat khas kedua ungkapan kultis ini.*
    Artikel 74:
    Perhatian saksama terhadap asas-asas ini hendaknya menumbuhkan usaha nyata untuk – sedapat mungkin – menyelaraskan ulah kesalehan dengan irama dan tuntutan-tuntutan liturgi dengan menghindari setiap pemaduan atau pencampuradukan kedua bentuk kesalehan ini.* Hal ini akan menjamin tidak munculnya bentuk-bentuk cangkokan atau bentuk-bentuk yang kacau-balau karena pencampuradukan liturgi dan ulah kesalehan; juga menjamin, bahwa, bertentangan dengan pemikiran Gereja, ulah kesalehan dihilangkan, sering kali dengan meninggalkan kekosongan yang akan merugikan kaum beriman.

    Note: kalimat yang diberi tanda * merujuk ke Marialis Cultus 31 dan 48.

    terima kasih

    1. Pater

      Sdr Viktorius, terima kasih atas pertanyaannya dan juga kutipan-kutipan dari dokumen-dokumen yang setiap umat perlu tahu dan perhatikan.

      Soal berdoa rosario selama Misa berlangsung ada yang mengatakan demikian: “Kalau dari kesaksian simbah-simbah, mereka doa Rosario waktu misa karena tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu misa, dan daripada diam saja mereka doa Rosario.” Saya menduga apa yang dikatakan itu, berkenaan dengan Misa FE. Masih segar dalam pikiran saya apa yg dikatakan seorang katekis kami dulu di SMP yang menekankan untuk tidak doa rosario selama Misa berlangsung. Saya tidak paham waktu itu dan melihat apa yg dikatakan tidak relevan, karena waktu itu memang sy tidak pernah melihat orang doa rosario selama Misa berlangsung. Maklum saya tumbuh besar dengan Misa FO dan juga mungkin dibaptis pakai bahasa Indonesia (FO). Sementara mendalami Misa FE dan sekaligus mempersembahkannya, apa yg dikatakan oleh katekis kami itu akhirnya saya mengerti. Singkat kata: ketika kita menghadiri Misa FE, melakukan devosi termasuk doa rosario adalah sah-sah saja karena “tidak tahu apa yg harus dilakukan waktu misa” seperti kata simbah-simbah itu. Dalam Misa FO, ruang utk devosi selama Misa hampir tidak ada, kecuali sesudah komuni, karena selalu ada interaksi antara imam dan umat (sahut menyahut). Jadi larangan berdevosi (misalnya berdoa rosario) selama Misa FO seperti yang tertulis dalam dokumen-dokumen tersebut tentunya “makes sense” atau logis. Sekiranya headphone, tablet, facebook, BBM, twitter etc sudah ada waktu dokumen-dokumen itu dibuat, tentunya dokumen-dokumen tidak akan berbicara tentang larangan terhadap devosi, tetapi larangan terhadap kesibukan ber-sosial media selama Misa berlangsung.

      Berbeda dengan Misa FE. Ruang untuk berdevosi (tidak hanya terbatas pada doa rosario) lebih banyak. Ini tidak berarti orang akan berdevosi mulai dari awal sampai akhir. Tidak mungkin karena ada bagian di mana kita dituntut menyisihkan devosi kita, misalnya pada saat kotbah, Credo, penghormatan terhadap Tubuh dan Darah Yesus ketika diangkat, dan komuni.

      Mengikut Misa FE, pikiran kita tidak mungkin bisa berkonsentrasi mulai dari awal sampai akhir mengikuti apa yang sedang terjadi, apalagi interaksi antara umat dan imam jarang terjadi. [Dalam Misa FO sendiri hal ini juga tidak mungkin. Kadangkala pikiran kita berkeliaran ke sana ke mari.] Jadi devosi bisa membantu mengatasi kurangnya konsentrasi ini. Devosi itu membantu kita mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.

      Devosi yang kita lakukan selama Misa FE tidak selalu bertentangan dengan alur dari Misa itu sendiri. Saat imam mengucapkan mendoakan “Introibo”, kita bisa mendoakannya juga pelan-pelan sambil mendengarkan koor atau musik organ. Di sini bisa kita tambahkan litani nama Yesus. Bagaimana sesudah Credo? Kita bisa mendoakan litani Hati Yesus atau lainnya. Pengucapan litani ini secara pelan-pelan, kadang effektif memusatkan pikiran kita pada Tuhan, sehingga ada saatnya kita berhenti mengucapkan litani itu, dan diam sambil merasakan kehadiran Tuhan. Kadang kala juga diam sambil memandang apa yang sedang terjadi di altar dengan penuh kekaguman dan rasa syukur. Jadi ada interval fokus yang terjadi secara natural. Kadang kita menfokuskan ke altar, jika ini melemah, kembali ke devosi, atau doa pribadi kita, kemudian kembali lagi ke altar.

      Devosi lain yang bisa terjadi, seperti yang saya alami, adalah orang pergi mengaku dosa selama Misa FE berlangsung. Ini mengandaikan bahwa ada imam lain yang hadir yang mendengarkan pengakuan kita. Ini juga mengandaikan bahwa pelayanan pengakuan dosa itu berakhir sebelum konsekrasi. Pemandangan ini amat wajar bagi mereka yang menghadiri Misa FE. Semoga jawaban ini membantu. (FS)

      1. Viktorius

        Terima kasih atas jawabannya romo .. sungguh membantu

Leave a Reply