«

»

Dec 01

Print this Post

Latin? R.I.P !

Judul di atas kurang lebih menyatakan: bahasa Latin adalah bahasa mati. Sebelum mengamininya, coba dengarkan yang satu ini:

Mungkin kita tidak mengerti kata-kata dari lagu yang kita barusan dengarkan, tetapi membuat kita mengharapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari hidup ini yaitu hidup kekal.

Bahasa Latin masih hidup, bahkan masih mengiringi manusia ke kuburan. Masihkah kita menyepelehkan pentingnya bahasa Latin?

Bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja dan terutama dalam hal liturgi. Penggunaan bahasa setempat dimaksudkan supaya umat mengerti dan mengambil bagian secara aktif. Pertanyaannya sekarang: apakah alasan ini masih mutlak dipertahankan ketika sarana komunikasi dan transportasi memungkinkan penggunaan bahasa Latin sebagaimana bahasa asing lainnya? Orang berbondong-bondong belajar bahasa asing bahkan lebih dari satu, tetapi bahasa Latin tidak mendapatkan tempat sama sekali bahkan ada sikap alergi terhadap bahasa Latin.

Jika kita bisa membaca artikel ini, berarti kita mempunyai fasilitas yang luar biasa untuk mempelajari bahasa Latin. Di internet ada translator untuk bahasa Latin, ada wikipedia Latina, kursus dan kamus bahasa Latin, …. Jika kita tidak punya waktu untuk belajar bahasa Latin, sekurang-kurangnya kita bisa menemukan terjemahan Latin – Inggris, bahkan juga Latin – Indonesia dalam soal Misa.

Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Ala bisa karena biasa. Sedikit demi sedikit akhirnya jadi bukit. Tidaklah berlebihan jika ungkapan-ungkapan ini kita terapkan dalam persoalan penggunaan bahasa Latin dalam Misa. Jika kita sering mendengarkan dan/atau mengucapkan doa, kalimat, dan kata Latin, – dan biasanya terjemahannya sudah tersedia, – doa, kalimat, dan kata Latin itu menjadi bagian yang wajar dari pemikiran kita. Kita ambil contoh. Jika doa “Pater Noster” atau kalimat “Dominus vobiscum”, “Et cum spirito tuo” atau kata-kata seperti “gloria”, “credo”, “sanctus” sudah sering kita doakan atau ucapkan, kita tidak akan mempertanyakan lagi arti dari doa, kalimat, dan kata tersebut karena sudah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Kita menjadi tahu dan mengerti karena pengulangan, karena lebih sering melihatnya.

Mungkin kita tidak akan pernah mampu menjelaskan mengapa bahasa Latin dari kata “Bapa”, “Putra”, dan “Roh Kudus” dalam kalimat “Gloria Patris, et Filio, et Spiritui Sancto” (Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus) berbeda yang ada dalam kalimat “In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti,” (Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus) atau “Benedicat vos omnipotens Deus, Pater, et Filius, et Spiritus Sanctus” (Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus). Mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut, silahkan belajar. Tetapi jika kita tahu arti kata dan kalimat itu, sudah lebih dari cukup.

Gunakanlah teknologi yang kita punyai sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita dan sesama. Generasi-generasi sebelum kita, sejauh menyangkut ritus Latin, tidak mempunyai teknologi yang kita miliki sekarang ini, akan heran jika kita tidak mau ikut – bahkan alergi dan menolak mentah-mentah – Misa dalam bahasa Latin karena tidak mengerti bahasa Latin.

misale romanum

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/latin-r-i-p/

Leave a Reply