«

»

Jan 22

Print this Post

MANTILA (!)

Fratres,

Dalam tradisi kuno yang sudah berusia ribuan tahun, ‘veil’ (penutup kepala) menjadi lambang kemurnian dan kesederhanaan dalam berbagai agama dan budaya. Veil atau penutup kepala dipakai saat – saat ritual suci.

Kerudung atau mantila biasanya berbentuk bulat atau potongan segitiga yang berwarna hitam atau putih dengan ciri khas berenda. Secara tradisional, mantila berwarna hitam dikenakan oleh wanita yang sudah menikah atau janda, sedangkan mantila berwarna putih dikenakan oleh wanita yang belum menikah.  Kain berenda (mantila) awalnya dikenakan oleh wanita di wilayah Andalusia, Spanyol. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh Arabian. Pada umumnya mantila digunakan pada acara – acara khusus, seperti  acara kebudayaan, audiens dengan Paus, dan lain – lain.

Ketika seorang wanita menutupi kepalanya di Gereja Katolik terutama saat dihadapan Sakramen Maha Kudus, melambangkan martabat dan kerendahan hatinya dihadapan Tuhan. Dengan menutupi kepalanya dengan mantila atau veil, ia menyatakan kewanitaannya yang indah dan unik.  Ia membiarkan mahkotanya disembunyikan agar kemuliaan Tuhan nampak padanya.  “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” (1 Kor 11:13) menjadi landasan pengenaan mantila oleh setiap wanita.

Sebelum Konsili Vatikan II, suatu kedisiplinan bagi wanita mengenakan mantila ketika memasuki Gereja untuk berdoa atau menyembah Tuhan. Hal ini tercantum dalam  KHK 1917

kan. 1262 § 2 “ pria dalam ibadah tidak perlu memakai tutup kepala, kecuali keadaan- keadaan khusus yang menentukan sebaliknya, dan perempuan harus mengenakan tutup kepala dan berpakaian sopan, terutama ketika mereka mendekati altar Tuhan.” Walaupun kini tidak lagi menjadi kewajiban karena KHK 1983 tidak mencantumkan mengenai pengenaan mantila oleh wanita dan dengan dasar KHK:

 Kan. 6§ 1 “Dengan berlakunya Kitab Hukum ini dihapuslah seluruhnya: 10 Kitab Hukum Kanonik yang diundangkan pada tahun 1917;…” . Keistimewaan menutup kepala tetap banyak diminati sebagai devosi terhadap kehadiran Tuhan dalam Gereja meskipun tradisi ini sempat ditinggalkan oleh banyak orang.

sumber: https://spesalvifactisumus.wordpress.com/2015/01/21/mantila/

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/mantila/

Leave a Reply