«

»

Nov 29

Print this Post

Misteri dalam Misa

Kata ‘hening’, ‘khusyuk’, ‘indah’, dan ‘agung’ adalah beberapa dari kata-kata yang sering dipakai untuk mengungkapkan kesan terhadap Misa Forma Extraordinaria (selanjutnya disebut Misa, Misa Kudus, atau Kurban Misa). Pada kesempatan ini kita akan melihat dua kata pertama yaitu ‘hening’ dan ‘khusyuk’ yang berkaitan dengan misteri. Sedangkan kata-kata ‘indah’ dan ‘agung’ kita akan bahas di tulisan berikutnya.

Ketika kita menghadiri Misa, kita berada di hadapan Tuhan yang adalah misteri. Misteri di sini tidak berarti bahwa kita tidak tahu sama sekali, tetapi lebih pada kenyataan bahwa kita tidak tahu sepenuhnya. Dalam beberapa hal Misa itu sendiri menggarisbawahi kenyataan misteri itu misalnya lewat penggunaan bahasa Latin, doa-doa yang diucapkan oleh imam dengan suara hampir tidak kedengaran, jarangnya interaksi antara imam dan umat, dan pemakaian kain-kain penutup termasuk yang dipakai oleh imam.

imam epistle side

Penggunaan bahasa Latin dalam Misa membuat kita tidak berdaya karena kita tidak mengerti. Daripada mengeluh dan frustasi dengan ketidakmengertian kita dengan bahasa Latin, kita bisa melihat ketidakmengertian kita itu sebagai kesempatan untuk menyadari bahwa Tuhan itu di luar cangkauan pikiran kita. Kesadaran seperti ini akan membuat kita tenang dan kita akan membiarkan diri kita terbawa oleh misteri itu sendiri. Ketika kita mendengarkan Sabda Tuhan dalam bahasa Latin, tentunya ini menimbulkan rasa ingin tahu. Kita perlu bersabar menunggu imam memberikan kotbah yang akan menjelaskan Sabda Tuhan kepada kita, sehingga rasa ingin tahu kita itu terpenuhi. Jika kita merenungkan lebih jauh, Tuhan selalu menyapa manusia lewat perantara karena keterbatasan kita. Sebagai tanda pengakuan atas ketidakberdayaan kita ini, kita memercayakan diri kepada imam untuk menjelaskan Sabda Tuhan kepada kita.

Misteri mengandaikan iman atau keberanian memercayakan diri. Sikap ini perlu ada ketika imam mengucapkan doa-doa tertentu dengan suara yang hampir tidak kedengaran. Selalu ada keinginan untuk mengetahui apakah intensi kita didoakan atau tidak. Ada kecendrungan untuk tahu apakah nama kita disebut. Dengan tidak mendengar apa-apa, satu-satunya sikap kita adalah percaya bahwa imam mendoakan kita.

kalis tertutup

 

Keingintahuan kita bukan hanya dengan telinga tetapi juga dengan mata. Kita ingin melihat wajah imam, apakah ramah atau seram, apakah gagah atau biasa-biasa saja. Badan imam hampir tidak kelihatan karena diselimuti oleh berbagai macam busana. Kita tidak melihat piala yang dipegang oleh imam saat berjalan ke altar karena ditutupi oleh kain. Kita ingin melihat apa yang apa yang sedang terjadi di altar. Tetapi hampir tidak kelihatan. Bahkan ketika imam menyapa kita dengan “Dominus vobiscum”, ia tidak melihat kita. Mengapa? Keinginan mata untuk melihat sesuatu akan dipenuhi dengan hal yang lebih besar yaitu Wajah Tuhan sendiri. Mungkin keinginan ini sudah sebagaian terpenuhi ketika kita melihat Tubuh dan Darah Kristus diangkat. Meskipun demikian kita masih merindukan Wajah Tuhan itu sendiri.

Jadi ketika kita menghadiri satu Misa, kita perlu tahu bahwa kita berada di hadapan Tuhan yang adalah misteri. Misteri ini diperkuat terutama dengan pemakaian bahasa Latin dan pengucapan doa-doa yang hampir tidak kedengaran. Sikap kita terhadap misteri itu adalah memercayakan diri. Misteri dan memercayakan diri itulah yang menciptakan keheningan dan kekhusyukan. (fs)

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/misteri-dalam-misa/

Leave a Reply