«

»

Jan 21

Print this Post

Mungkin kita salah menuding

pharisee tax collector

Apakah di hadapan Tuhan (baca: dalam berliturgi) kita adalah “orang Farisi” yang berdiri memuliakan diri sendiri atau “pendosa” yang berlutut mohon belas kasih Tuhan?

“Hari Sabat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.” “Jangan menghakimi!” “Kamu seperti orang Farisi saja.” “Belaskasih bukan aturan.” “Yesus datang memanggil orang-orang yang disingkirkan, orang-orang berdosa.” Dan masih banyak lagi yang bisa dikutip dan digunakan untuk menutup mulut mereka yang berusaha menghidupi dan menaati apa yang Gereja ajarkan terutama dalam hal moral dan liturgi.

Saya melihat bagaimana mereka yang bertobat (baca: berusaha menghidupi ajaran Gereja) patah semangat karena mereka dibombardir dengan kutipan-kutipan seperti di atas.

Yesus mencela orang-orang Farisi karena tidak mau bertobat. Sikap orang Farisi dikontraskan dengan pelacur, pemungut cukai yang mau bertobat.

Apakah kita pernah berpikir bahwa mereka yang bersemangat menggali kebenaran ajaran moral dan keindahan liturgi Gereja dan berusaha menghidupinya dari hari ke hari adalah pendosa yang bertobat?

pharisee6

Dalam hal dosa, apakah kita seperti “pelacur” yang diampuni dan pergi tidak berbuat dosa lagi atau “orang Farisi” yang membenarkan diri dan menyembunyikan dosa-dosanya?

Mungkin kutipan-kutipan di atas diperuntukkan bagi kita yang suka berkreativitas dalam soal liturgi dan ingin membuat ajaran moral lebih sesuai dengan selera dunia. Mungkin kita tidak pernah berpikir bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat suka menambah dan mengubah perintah-perintah Tuhan demi kepentingan mereka.

Siapakah di antara kita yang sebenarnya seperti orang-orang Farisi yang ditentang oleh Yesus? Jika kita tidak mau bertobat, jika kita keras kepala, jika kita merasa ada di atas aturan, jika kita berusaha membenarkan diri dengan segala macam argumen untuk tidak mengikuti ajaran Gereja, kita mungkin termasuk bilangan orang-orang Farisi.

pharisee3

Menempatkan Tuhan di atas segala-galanya, apakah kita seperti “pelacur bertobat” yang memberikan yang termahal buat Yesus, atau seperti “Yudas” yang mengatasnamakan orang-orang miskin untuk kepentingan sendiri?

Ketiga gambar yang saya tampilkan, mungkin membantu kita mempertanyakan tudingan-tudingan kita. Apakah di hadapan Tuhan (baca: dalam berliturgi) kita adalah “orang Farisi” yang berdiri memuliakan diri sendiri atau “pendosa” yang berlutut mohon belas kasih Tuhan? Dalam hal dosa, apakah kita seperti “pelacur” yang diampuni dan pergi tidak berbuat dosa lagi atau seperti “orang Farisi” yang membenarkan diri dan menyembunyikan dosa-dosanya? Menempatkan Tuhan di atas segala-galanya, apakah kita seperti “pelacur bertobat” yang memberikan yang termahal buat Yesus, atau seperti “Yudas” yang mengatasnamakan orang-orang miskin untuk kepentingan sendiri?

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/mungkin-kita-salah-menuding/

Leave a Reply