«

»

Jan 14

Print this Post

Romo, Tolong Hentikan Itu

Dari keenambelas dokumen Konsili Vatikan II, adakah aturan yang lebih sering dilanggar daripada Kaidah Umum 22.3 dari Konstitusi Tentang Liturgi Suci? Bila Anda lupa, kaidah itu mengajarkan bahwa “Tidak seorang pun, termasuk Imam, yang boleh menambah, meniadakan, atau mengubah apapun dalam liturgi atas prakarsa sendiri.”

Jika Anda rutin menghadiri Misa harian, mungkin Anda mengamati bahwa kaidah ini dilanggar lusinan kali dalam sepekan. Mereka yang hanya menghadiri Misa Minggu umumnya mengamati bahwa kaidah itu dilanggar setidaknya dua atau tiga kali seminggu. Tindakan mengubah-ubah teks yang telah ditetapkan dalam Misa memang terlihat mewabahi Imam-Imam yang belajar di seminari pada akhir tahun 60-an, pada tahun 70-an, dan pada awal tahun 80-an, dan lebih tidak kentara dalam kalangan para klerus yang lebih muda. Tetapi berapapun usia Imam yang melakukannya, baik yang sepuh, paruh baya, maupun muda, tindakan itu amatlah menjengkelkan dan mengganggu ibadah.

Terutama saat ini, kita dapat memperhatikan, setelah dipulihkannya bahasa liturgi melalui terjemahan baru yang telah kita gunakan sejak Adven 2011. Terjemahan-terjemahan ini memang tidak bebas dari kesalahan, namun merupakan perbaikan yang besar dari yang kita miliki sebelumnya. Dengan menghadirkan kembali bahasa-bahasa suci yang telah hilang dalam terjemahan yang lama, terjemahan yang baru ini mengingatkan kita bahwa Misa lebih dari sekedar pertemuan sosial. Misa adalah tindakan ibadah, yang keagungannya harus terlihat dalam bahasa yang digunakan dalam liturgi, yang tentu berbeda dengan bahasa yang digunakan di pusat perbelanjaan atau pesta olahraga.

Namun, di satu sisi, terjemahan yang baru ini justru memperburuk. Misalnya, ketika seorang Imam berusaha menunjukkan betapa ramahnya dirinya kepada umatnya dengan cara mengubah kata-kata di teks Misa menjadi kata-kata yang menurutnya lebih manis, sebenarnya Imam itu memberi suatu kejanggalan yang seketika itu juga akan ditangkap oleh mereka yang berperhatian penuh. Dan kejanggalan ini akan menyulitkan mereka untuk berdoa.

Oleh karena itu, sambil menyambut tahun baru ini, saya ingin memberi saran kepada Romo-Romo kita dalam Kristus, agar mereka berhenti dan menahan diri dari tindakan membuat-buat, mencoba membuat lebih menarik, dan mengutak-atik kata-kata dalam buku Misa. Sebagaimana yang seharusnya dalam liturgi, perbedaan warna tulisan dalam buku Misa dipakai untuk membedakan mana yang dibaca dan mana yang dilakukan, dan pedomannya adalah “Bacalah yang hitam dan lakukanlah yang merah”. Hanya itu, Romo. Bacalah yang hitam dan lakukanlah yang merah. Atau yang lebih baik, doakanlah yang hitam dan lakukanlah yang merah.

Tindakan buruk para selebran semacam itu juga lama-lama akan melenyapkan klerikalisme. Dengan bersikap tidak hormat pada perintah-perintah Konsili, mereka sesungguhnya menyatakan bahwa mereka memiliki kuasa sendiri atas liturgi. Dan dengan berbuat demikian, secara sadar atau tidak sadar, mereka merendahkan peran umat dalam mempersembahkan ibadah yang benar kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dalam Misa yang dipersembahkan dengan benar, dialog doa yang disuarakan antara selebran dan umat terjadi dalam irama yang sudah ditetapkan dalam teks Misa. Dan irama tersebut akan rusak ketika, misalnya, selebran membuka pembacaan Injil dengan berkata, “Kabar Gembira dari Tuhan sebagaimana diwartakan oleh Lukas”. Jawaban yang seharusnya, yaitu “Dimuliakanlah Tuhan”, menjadi terasa aneh. Jawaban tersebut sudah sesuai untuk menjawab kata pembuka yang benar, yaitu “Inilah Injil Yesus Kristus menurut —-”.

Tindakan buruk selebran yang demikian mungkin awalnya mengejutkan, tetapi setelah lebih dari empat dekade dilakukan secara terus-menerus, itu sudah menjadi kebiasaan lama. Romo, Anda tidak pantas melakukannya. Tindakan Anda itu menghilangkan kesakralan Misa, bahkan konyol. Lebih dari itu, Anda meremehkan kami dengan memberikan kesan bahwa kami, para umat, tidak mampu bertahan dengan bahasa liturgi yang sakral sehingga kami perlu dihibur supaya mau berpartisipasi. Bahkan, bila Anda mendengarkan dengan seksama, dapat Anda lihat bahwa respon umat malah menurun ketika Anda mengajak mereka untuk merespon dengan cara Anda sendiri, bukan dengan cara liturgi.

Jadi, tolong, para Romo dalam Kristus, hentikanlah upaya-upaya Anda berkreativitas, atau menjadikan teks Misa lebih ramah, atau apapun yang Anda lakukan itu. Yakinlah, upaya-upaya semacam itu tidak berhasil. Kami hanya meminta tolong agar Anda mendoakan yang hitam dan melakukan yang merah. Dengan demikian, ibadah yang dimaksudkan oleh Vatikan II akan terwujud dengan lebih baik.

[Diterjemahkan langsung oleh Sdr. Jonathan Hoseana dari http://www.firstthings.com/web-exclusives/2016/01/dear-father-please-stop-it]

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/romo-tolong-hentikan-itu/

Leave a Reply