«

»

Jan 10

Print this Post

SEJARAH IBADAT HARIAN

Kehidupan Umat Kristen Katolik tidak terlepas dari aktivitas berdoa. Berdoa adalah sarana untuk berbicara kepada Allah Tritunggal Maha Kudus baik berisi Pujian, Syukur, Permohonan, dan sebagainya. Doa tidak dapat terlepas dari kehidupan umat Katolik sendiri!. Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian.

Gereja Katolik dalam ritus Latin memiliki tradisi luhur untuk memuji dan menyembah Tuhan selain Kurban Misa, tak lain adalah Ibadat Harian (Liturgia Horarum). Ibadat Harian juga dikenal dengan nama Ofisi (Officium Divina) yang dapat diartikan sebagai Tugas Ilahi. Ada juga sebutan lain untuk Ibadat Harian yaitu Brevir yang berarti  ikhtisar jam-jam kanonik.Ibadat Harian bukanlah sebuah devosi, melainkan Liturgi (Doa Publik), doa harian resmi Gereja Katolik.

Asal muasal Ibadat Harian tidak terlepas dari tradisi Yahudi pada perjanjian lama. Atas perintah Allah kepada Para Imam Yahudi, penyucian hari dilakukan melalui Kurban sembelihan pada pagi dan petang hari (Bdk Kel 28:38-39, Bil 28:3-8, 1Raj 18:36). Praktik kurban sembelihan terus dilangsungkan, namun diganti dengan pembacaan Kitab Taurat, Mazmur dan Kidung Pujian di Sinagoga karena bait  Allah sudah dihancurkan pada masa pembuangan Babilon. Umat Israel pada masa pembuangan memiliki kebiasaan untuk berdoa pada waktu – waktu tertentu ( Dan 6:10, 6:13).

Setelah masa pembuangan dan sisa Israel kembali ke Yudea, kurban Pujian ini tetap dilakukan di Bait Allah yang dibangun kembali.Pada masa Penjajahan Kekaisaran Romawi, Umat Yahudi mulai mengikuti pola pembagian waktu dalam melaksanakan kehidupan bisnis dan kehidupan sehari – hari, termasuk dalam hal waktu berdoa. Di pusat kota atau pasar terdapat lonceng yang akan berdentang pada jam enam pagi,  jam Sembilan siang, jam satu siang, jam tiga sore, dan jam enam sore. Lonceng dibunyikan pada jam tertentu memiliki instruksi – instruksi tertentu, tak lain seperti jam untuk bekerja, jam istirahat / makan siang, dan jam untuk pulang kerja.

Aktivitas berdoa di jam tertentu dilanjutkan pada kehidupan Yesus dan umat Kristen perdana, diantaranya dapat dilihat dalam Kitab Suci ( Luk 3: 21-22, 6:12, 9:18, 28-29, 11:1, 22:32; Mat 4:19, 15:36, 19:13, dst). Doa Harian pada jam tertentu ( Penyucian Waktu) ini terus berlanjut, dan berisikan elemen yang hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Umat Yahudi: Mengulang atau menyanyikan Mazmur, membaca Kitab Suci, dan pada kemudian hari ditambahkan dengan Madah Kemuliaan serta doa – doa lainnya.

Penetapan waktu doa selain dapat ditemukan dalam Kitab Suci juga dapat ditemukan dalam tulisan Bapa – Bapa Gereja dan Kitab – Kitab Apokrif. Kitab Didache (95M) menyebut “orismenois kairois kai horeis [Waktu – waktu dan jam – jam tertentu untuk sembahyang]. Tentang Doa Harian ini juga ditemukan dalam dokumen konstitusi Rasuli (380) dan Bapa Gereja. Basilius Agung (330-379) dalam “Regulae Fusius Tractate”, yang menyebutkan bahwa penetapan jam tertentu untuk berdoa telah dilakukan di Yerusalem oleh Para Rasul sendiri.

Hampir Semua Bapa Gereja baik Timur (St, Yohanes Krisostomos) maupun Barat(St. Hieronimus). St. Agustinus dari Hippo dalam aturan Hidup membiara menganjurkan kepada para Rahib dan rabib/rubiah untuk bertekun dengan setia dalam doa pada jam – jam dan waktu – waktu yang telah ditentukan.

Pada pengembangannya bentuk doa Ibadat Harian berkembang pesat dalam kehidupan umat Kristen baik di barat maupun Timur. Pada Abad ke empat, praktek Ibadat Harian ini telah mendapatkan bentuk yang sudah lebih pasti, walaupun buku panduan doanya masih dalam keadaan terpisah seperti kumpulan Mazmur, Madah, Bacaan Sabda, dan sebagainya. Karena mengalami kesulitan seperti banyaknya buku yang terpisah, maka disusunlah dalam satu buku sederhana yang disebut Brevir.Brevir iini akhirnya dikenal luas hingga di masa Konsili Trente yang mengkhendaki adanya revisi atau perubahan agar lebih efektif dalam penggunaannya. Brevir terus mengalami Revisi di masa Pontifikal: Paus Pius V, Paus Clement VIII, Paus Urban VIII, Paus Pius X, Paus Pius XII, dan Paus Yohanes XXIII di tahun 1960.

Pada perkembangannya sejak akhir abad kelima hingga sebelum Konsili Vatikan II, doa Ibadat harian terdiri dari:

Matutinum (Ibadat Tengah Malam / Vigile),
Laudes (saat fajar menyingsing),
Primus (Pagi hari),
Tertia (sebelum tengah hari), Sexta (tepat tengah hari).
Nona (setelah tengah hari),
Vesper (Sore hari), dan
Completorium (Penutup Hari).

Konsili Vatikan II melakukan penyederhanaan pada Ibadat Harian dan membuatnya lebih mudah digunakan oleh umat awam dengan harapan Ibadat Harian menjadi doa bagi seluruh anggota Gereja. Konsili Vatikan II menggabungkan doa Primus ke dalam doa Laudes, dan mengubah doa Matutinum menjadi Ibadat bacaan yang boleh didoakan pada waktu kapan pun.

Konsili juga melakukan penataan ulang sehingga mazmur–mazmur didoakan selama empat minggu (sebelumnya hanya satu minggu). Brevir kini lebih dikenal sebagai Ibadat Harian (Liturgia Horarum) yang dibagi dalam empat tingkat sesuai dengan kalender Liturgi.
-Masa I: Adven & Natal
-Masa II: Pra-paska dan Tri-hari Suci serta Masa Paska
-Masa III: Minggu Biasa 1 sampai 17
-Masa IV: Minggu Biasa 18-34

Saat ini, Praktik Ibadat Harian dalam Gereja Katolik meliputi:

-Ibadat Matutinum
-Ibadat Laudes
-Ibadat Siang (tertia, Sextia, dan Nona)
-Ibadat Vesper
-Ibadat Completorium

 

Sumber:

http://spesalvifactisumus.wordpress.com/2015/01/08/56/

Permanent link to this article: http://www.missalatina.org/sejarah-ibadat-harian/

Leave a Reply